Jumlah
pengguna internet di berbagai belahan dunia terus berlipat ganda dengan angka yang
menakjubkan. perkembangan internet saat ini bukan hanya sebagai alat
pengiriman, pertukaran, dan pengambilan data. Internet memenuhi banyak fungsi
lain, meliputi kemudahan berbisnis, berkarier, berkomunikasi, menjalankan proses
belajar-mengajar, menjalin relasi, menyiarkan berita, berkampanye, melakukan
propaganda, hingga mewartakan injil. Semakin tidak terhindarkannya internet
sebagai perlengkapan studi dan alat bantu pekerjaan membuat internet turut berperan
dalam cara kita berpikir, berkomunikasi, berelasi, berekreasi, bertingkah laku,
dan mengambil keputusan. Ironisnya, alat yang begitu berguna ini juga
menimbulkan cukup banyak persoalan pada penggunanya. Sebagai contoh, hasil
sebuah survey memperlihatkan bahwa penggunaan internet memberi sumbangsih pada hampir
50% persoalan keluarga dan relasi.
David Greenfield menjelaskan mengapa
internet memiliki daya menghipnotis. Internet sangatlah menarik karena memuat
warna, gerakan, suara, ketidakterbatasan informasi, dan kesegaraan respons. Godaan
daya tarik internet bahkan juga masih terus berlangsung saat seseorang tidak
sedang terhubung dengan internet. Orang yang memenuhi kriteria sebagai pecandu
internet dalam survei ini memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk menemui
orang yang dikenalnya pertama kali di internet.
Sifat interaktif internet juga menambah
daya tarik internet. Greenfield juga menemukan bahwa rasa intim yang berlebih
membuat orang sulit melepaskan diri dari internet.
Penemuan ini sekaligus memperlihatkan
bahwa hubungan yang terjalin melalui internet merupakan relasi yang tidak nyata dan menipu,
namun cenderung dianggap sebagai kenyataan buat mereka yang terlibat dalam
relasi tersebut. Dibanding televisi yang juga memiliki efek mencandu, internet memiliki
kelebihan karena sifat yang tidak terbatasnya waktu akses,interaktif, menantang, dan sangat
variatif. Lebih jauh, Michael G. Conner juga menyebutkan dua hal yang membuat
internet menarik dan sekaligus bermasalah, yakni membuat orang merasa nyaman
dan tidak menyadari adanya masalah. Orang dapat bepergian ke mana saja, melihat
apa saja, menemukan apa saja, berbuat apa saja, dan menjadi siapa pun yang ia kehendaki.
Dalam masyarakat virtual, orang kehilangan akuntabilitas, pengawasan, dan
konsekuensi sosial.
Ketertarikan seseorang terhadap internet
banyak bergantung kepada kepentingan, minat, dan kepribadian setiap individu.
Orang dapat memeroleh informasi mengenai apa saja
sesuai dengan bidang minat dan perhatiannya.
Meskipun demikian, ada tiga hal utama yang menjadi pintu masuk keterlibatan
seseorang dalam ke
canduan internet, yakni pornografi, online game, dan
jejaring sosial.
Berikut adalah prinsip pelayanan
bagi pecandu internet:
Pertama, langkah awal penanganan kasus kecanduan internet harus dimulai
dari pengakuan dan kerelaan pecandu untuk melepaskan kebiasaannya tersebut. Usaha apa pun
yang kita lakukan niscaya akan menemui kegagalan bila pecandu internet tidak mengakui
persoalannya yang berat. Untuk itu, rohaniwan atau konselor perlu melakukan
pendekatan empatik dan penuh penerimaan
terhadap kesulitan dan persoalan yang membelit pecandu tanpa bersikap
menyalahkan.
Kedua,
harus ada semacam ikatan kontrak dengan pecandu agar dalam suatu jangka waktu,
misalnya selama empat puluh hari, untuk tidak bersentuhan dengan internet sama
sekali. Sebagai gantinya, kita melatih mereka untuk memperoleh hobi dan
kebiasaan baru. Pecandu tidak boleh dibiarkan menganggur selama mereka tidak
beraktivitas dengan internet agar mereka belajar mengisi waktu luang dengan
cara yang baik.
Ketiga,
konseling pribadi dan konseling kelompok harus diberikan secara rutin sampai
pecandu benar-benar terlepas dari kecanduannya. Konseling pribadi bermanfaat untuk
menolong pecandu mengenali kecenderungan dan asal mula perasaan dan pikiran
yang menjerumuskan mereka ke dalam siklus kecanduan, mengatasi pikiran dan
perasaan itu,
serta memperoleh pola pikir dan
pengendalian perasaan yang lebih baik.
Konseling kelompok diperlukan agar mereka
mempelajari kembali cara
berelasi yang sehat, untuk menghadapi
rasa sakit akibat gesekan dalam relasi, serta untuk memberi dukungan dan saling
menguatkan antar pecandu di bawah bimbingan dari seorang konselor atau terapis.
Juga diperlukan layanan konseling keluarga, karena perilaku pecandu memberi
dampak kepada seluruh keluarga. Kemungkinan juga ada
sumbangsih dari keluarga dalam persoalan
pecandu internet. Dengan demikian,pengakuan akan kesalahan serta perbaikan
dapat dilakukan antar anggota keluarga.
Keempat, pecandu yang telah terbebas harus menyadari bahwa mereka tetap
memiliki area sensitif terkait dengan penggunaan internet. Dengan demikian,
mantan pecandu perlu dibekali dengan teknik penolakan dan penghindaran terhadap
keterlibatan
terhadap dosa dan kebiasaan buruk mereka
yang dahulu.
Mantan pecandu perlu pula ditolong
untuk mengembangkan talenta dan karunia yang
mereka miliki sehingga tidak lagi terhisap
ke dalam pola pikir dan kebiasaan lama mereka.
Sumber : http://www.seabs.ac.id/journal/oktober2009/Kecanduan%20Berinternet%20dan%20Prinsip-Prinsip%20Untuk%20Menolong%20Pecandu%20Internet.pdf